Daerah

Dialog Lintas Iman, Solusi Menyikapi Perbedaan

Sumatera Utara – Aliansi Persaudaraan Umat menggelar kegiatan bertajuk “Dialog Lintas Iman”, pada hari Rabu, (19/09/2018) di Aula PPGV GBKP, Kabanjahe, Sumatera Utara.

Kegiatan dialog yang menghadirkan pembicara dari Buddha Thereveda, Kristen Advent, Hindu, YIPC dsn Jamaah Islam Ahmadiyah, mengetengahkan tema “Toleransi untuk Perdamaian (Dari Perspektif Berbagai Agama)”.

Ketua Panitia, Hasmar Siregar menyampaikan bahwa Aliansi Persaudaraan Umat menginisiasi kegiatan ini untuk membumikan nilai-nilai toleransi demi terwujudnya perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

“Diharapkan dialog seperti ini dapat dikembangkan sehingga kerjasama antar umat beragama semakin meningkat, demi kemaslahatan umat manusia”, Hasmar Siregar dalam sambutannya.

Pembicara dari Kristen Advent, Pdt. Andry Setyapudji dalam presentasinya menyampaikan bahwa ajaran Yesus Kristus adalah ajaran cinta kasih.

“Sebagai seorang Kristiani yang baik harus berpedoman kepada ajaran cinta kasih ini. Sikap toleransi adalah bagian dari ajaran Yesus Kristus yang sangat penting”, ujarnya.

Sementara itu, narasumber dari Buddha Therevada, Pinandita M. Manogren mengungkapkan, bahwa pada dasarnya semua agama itu sama yaitu mengajarkan kebaikan.

“Tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat jahat kepada orang lain. Dalam agama hindu pun banyak sekali dijelaskan mengenai toleransi dalam kitab sucinya”, ungkapnya.

Pembicara selanjutnya dari Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC), Yulinda Lumban mengajak kaun muda untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang mengkampanyekan toleransi dan perdamaian.

“YIPC juga banyak menginisiasi event tersebut, mari kita bersama-sama untuk mengkampanyekan perdamaian”, tuturnya.

Pembicara terakhir dari Jamaah Islam Ahmadiyah, Mln. Muhammad Idris menerangkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan toleran.

“Tidak ada paksaan dalam Islam, dakwah yang disampaikan harus dengan penuh kebijaksaan bukan dengan paksaan”, imbuhnya.

Idris menambahkan, toleransi itu bukan berarti kita tidak peduli terhadap yang berbeda. Tapi lebih dari itu, kita harus memberikan kenyamanan kepada mereka. Islam sendiri artinya damai, damai untuk diri sendiri dan orang lain.

Baca Juga  Wahid Foundation: DKI Jakarta Menjadi Provinsi Dengan Tingkat Pelanggaran Tertinggi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

“Kami mengajak kepada kepada seluruh umat beragama untuk bisa berkejasama demi memberikan manfaat kepada sesama manusia. Mari jadikan perbedaan ini sebagai ladang amal sosial”, pungkasnya. (idris)

Tinggalkan Balasan