Damai Mengabarkan
Kolom

Jangan Suriahkan Indonesia

Tulisan ini mencoba untuk mengkaji secara objektif walau saya sadar bahwa tingkat subjektivitas masih belum bisa dijauhkan secara praktis dan mungkin berasal dari kedewasaan saya sendiri yang belum matang.

Namun akhir-akhir ini saya sangat prihatin dengan fenomena disintegrasi bangsa, walau masih dalam skala kecil, dan  saya mengidentifikasi sendiri dilapangan dan berbagai media yang menyajikan berbagai berita, terutama media yang punya kepentinngan untuk mendukung salah satu capres dan cawapres dari kedua belah pihak.

Saya mencoba menelisik secara praktis dan mengandung banyak opini penulis sendiri yang mungkin belum tentu benar dan masih bisa disangkal secara ilmiah, opini balik bahkan tulisan nyinyir sekalipun.

Negara kita adalah negara kemaritiman yang mungkin bisa dikategorikan sebagai salah satu negara kepulauan terbesar didunia dengan laut yang sangat luas. Dengan berbagai ragam bahasa, suku, bangsa, serta ras yang sangat kaya.

Hasil sumber daya alamnya jika sangat beragam dan berpotensi untuk dikategorikan sebagai negara yang kaya akan alamnya.

Melihat fakta universal diatas, maka Persatuan adalah aset yang sangat berharga dan pantas untuk diperjuangkan oleh kita bersama. Karena keberagaman di Indonesia, jika tidak di perhatikan serta tidak diurusi secara maksimal, maka akan berpotensi untuk menyebabkan perselisihan, perpecahan dan peperangan antar suku, bangsa, agama dan ras yang ada.

Sudah sepantasnya, bangsa kita lebih memfokuskan dirinya kepada asas persatuan yang akan membuat keberagaman menjadi rahmat dan bukan menjadi perpecahan sebagai laknat Tuhan.

Akhir-akhir ini saya memperhatikan dengan seksama fenomena kemasyarakatan yang bersifat sosial, semisal media pemberitaan, alat komunikasi berbasis internet, bahasan dalam setiap diskusi bahkan tema dalam setiap diskusi nyaris saja total berbau politik. Bahkan senetral apapun tetap tidak bisa dijauhkan dengan tujuan, intervensi yang bernuansa politis.

Baca Juga  Palestina Berhasil Taklukan Indonesia

Pasca pemilihan umum presiden yang diselenggarakan 4 tahun yang lalu, media sosial tidak pernah sepi dari pemberitaan yang bernuansa politis. Klimaksnya adalah saat terjadi pemilihan gubernur di DKI Jakarta, hampir semua isi dari pemberitaan di media sosial dipastikan berbau politis (termasuk saya sendiri. Hehe..).

Yang paling miris adalah hanya karena berbeda pilihan politik, mereka tega menyerang saudaranya bahkan memitnah gurunya dengan membunuh karakter mereka dengan kejam. Bahkan mereka rela memproduksi hoax yang tentu saja menyerang lawan politiknya tanpa pandang bulu.

Sekelas ketua MUI Pusat dan bahkan ormas-ormas besar sekelas PBNU dan Muhammadiyah pun tak luput dari objek hoak mereka.

Pada akhirnya status dan pecahan berita-berita yang bernada kebencian tersebar luas dengan massif lalu merasuk kepada masyarakat awam, opini murahan pun dibangun dan dijejalkan kepada masyarakat awam dengan cepat.

Pada akhirnya, berbagai jenis konflik terjadi.

Bentuk konflik yang terjadi ada yang berbentuk diskusi, debat, saling hujat, audiensi, berbagai aksi bahkan bentrok fisikpun tak terelakkan. Maka kondusivitas bangsapun terganggu.

Segala sesuatu kejadian selalu dikaitkan dengan issue dan politik. Mereka sadar, bahwa untuk menarik simpati masyarakat adalah dengan cara mempolitisasi agama, saat ini saya menyaksikan agama dijadikan komoditi yang paling utama untuk menciptakan keributan.

Sepertinya merekapun mengikuti pola-pola manajemen konflik yang pernah digagas negara-negara timur tengah (timteng).  Sehingga terjadilah penyerangan-penyerangan, lalu kudeta dimana-mana, sehingga keamanan negara benar-benar terganggu.

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar didunia, maka sudah dipastikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kultur religiusitas yang tinggi , yang percaya kepada norma-norma agama. Islam sebagai “Din” yang rahmatan lil alamin.

Adalah sebuah ajaran yang mampu menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan, baik itu personal maupun komunal.

Kenapa ajaran Islam sangat diminati dan sangat krusial di negeri ini? Karena ajaran islam mampu memberikan jawaban dari setiap persoalan yang dihadapi manusia. Dengan adagium ini, maka terdapat berbagai kategori kesimpulan yang menyikapinya,

Baca Juga  Kalahkan Thailand di Final, Indonesia Juara Piala AFF U-16

sehingga respon tersebut menghasilkan berbagai interpretasi lalu faham yang berbeda, diantaranya pertama, ada yang menganggap bahwa: karena Islam adalah ajaran yang kaffah, maka semua sendi kehidupan harus di rubah menjadi simbol Islam, mereka memperjuangkan simbolisasi istilah Islam yang berbahasa Arab, sehingga Islam diidentikkan dengan arab, dan jika tidak arab maka dia bukan islam.

Gerakan pun timbul dari pemahaman ini, mereka adalah kaum jihadis islamis yang melegislasi Islam sebagai istilah belaka. Kedua, adalah islam yang bernuansa ruh, mereka memperjuangkan nilai-nilai atau ruh dan ajaran Islam.

Mereka tidak mempermasalahkan istillah islam, tetapi mereka lebih menjurus kepada “maqasid asyariah” yaitu tujuan dari syariat.

Ketiga, adalah orang yang menolak Islam, atau bisa dikatakan kaum liberalis, yaitu orang-orang yang menjauhkan dirinya sendiri dari ruh apalagi simbol Islam. Mereka seolah alergi kepada hal-hal yang berbau Islam.

Dinamika yang terjadi saat ini, mereka saling mengklaim bahwa merekalah yang paling benar, hanya karena melandaskan pendapat kepada emosi dan kepentingan pribadi, sejatinya manusia mempunyai idealisme pribadi dengan mencocokan dirinya sebagai manusia yang paling pantas memiliki negara ini, adapula mereka yang paling merasa bahwa akulah yang paling islam.

Melihat kejadian ini, saya tidak melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi dari itu, dampak dari ketegangan diantara mereka yang bisa menghancurkan persatuan dan kebersamaan diantara keduanya.

Sebagaimana peribahasa mengatakan “kalah jadi abu, menang jadi arang”. Yang kuat ataupun yang lemah, mereka sama-sama kalah, karena pada akhirnya yang menjadi korban adalah diri mereka sendiri.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengasah diri untuk hal-hal yang produktif, kini waktu terbuang sia-sia hanya digunakan untuk bersitegang bahkan dengan saudara sendiri. Uang yang digunakan untuk membeli kuota yang seharusnya digunakan untuk berkomunikasi dan saling keterhubungan satu sama lain, untuk memperlancar silaturrahmi, justru menjadi alat pemecah dan bahkan perusak silaturrahmi yang paling massif, kebanyakan dari mereka menggunakan hanya untuk membahas dan mendukung jagoannya masing-masing. Dan lain sebagainya.

Baca Juga  Aster Panglima TNI : Generasi Muda Perlu Miliki Karakter Pancasilais

Jika kita melihat dari berbagai sisi, maka hal ini sangat merugikan rakyat awam seperti saya, karena hal ini sangat kontraproduktif. Tetapi bagi kalangan elitis, ini sangat menguntungkan karna mereka berhasil menggiring opini demi kepentingan pilpres, sehingga mereka berhasil meraup keuntungan yang banyak dari kejadian ini.

Singkat cerita…..
Keributan tingkat nasional yang menjadi goal terakhir,konflik berlarut-larut, dan berbagai kehancuran yang sulit dibereskan. Sehingga mereka bertepuk tangan dibelakang layar menyaksikan skenario besar dibelakang keributan ini, walhasil, mereka yang ingin menghancurkan bangsa ini tak perlu repot-repot untuk menghancurkan Indonesia.
Indonesia akan menjadi Suriah berikutnya, negara yang saat ini telah hancur karena ulah rakyatnya sendiri, dengan taktik adu domba dan permainan issu agama yang massif.

Bangsa Indonesia adalah tanah yang merdeka, bukan hasil dari warisan para penjajah, tetapi hasil rebut dan perjuangan panjang para pahlawan. Dengan darah dan nyawa serta harta yang bernilai dan tidak akan pernah terbayar oleh apapun dan oleh siapapun.

Maka sudah sepantasnya kita jaga bersama, karena indonesia adalah negeri kita bersama, tanah air kita, tempat bersujud seluruh muslim Indonsia.

Oleh: Ajang M Abdul Jalil (Pengurus Cabang PMII Kab. Tasikmalaya bid. Keagamaan) 

Tinggalkan Balasan