Damai Mengabarkan
Tasikmalayawisata

Kampung Naga, Kearifan Lokal yang Masih Bertahan

Tasikmalaya – Kampung Naga sebuah tempat yang masih mempertahankan adat istiadat terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung Naga berlokasi ± 40 KM ke arah barat dari Kota Tasikmalaya menuju Garut. Kampung Naga merupakan tempat salah satu tempat wisata di Kabupaten Tasikmalaya dan salah satu tempat yang masih sangat mempertahankan adat istiadat.

Sejarah Kampung Naga sebenarnya sudah ada ditulis di buku, tetapi ketika tahun 1956 Kampung Naga di bakar oleh DI-TII (Karto Suwiryo) semua habis dilahap si jago merah termasuk buku sejarah Kampung Naga. Jangankan untuk menyelamatkan benda pusaka atau buku sejarah warga pada saat itu berlarian menyelematkan diri, bahkan ada yang tidak selamat. Terkait Sejarah warga Kampung Naga juga Pareum Obor (kehilangan jejak). Yang jelas, Kampung Naga sudah ratusan tahun berdiri, bahkan ketika pemerintahan belum ada, Islam belum masuk ke Indonesia Kampung Naga sudah berdiri.

A.  Adat Istiadat

Kampung Naga sendiri mempunyai enam adat istiadat yang rutin dilakukan setiap satu tahun sekali yang disebut Hajat Sasih yang berarti setahun sekali. Hajat sasih mencangkup enam adat seperti :
1. 1 Muharam (menyambut tahun baru islam)
2. Maulid Nabi (menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw)
3. Jumadil akhir (pertengahan tahun baru Islam)
4. Ruwah (menyambut bulan suci ramadhan)
5. Idul Fitri
6. Idul Adha
Hajat sasih adalah adat untuk menyambut hari-hari besar islam yang biasa dilaksanakan oleh warga Kampung Naga sendiri maupun luar Kampung Naga. Ada salah satu adat ketika memotong pohon besar warga kampung naga tidak memakai sandal, sebenarnya bukan tidak boleh, tetapi dalam pelaksanaan adat tersebut, tidak ada istilah si kaya dan si miskin, ketika diperbolehkan memakai sandal akan timbul persaingan memakai sandal siapa yang paling bagus. Selain itu dalam acara adat tersebut harus rata tidak ada perbedaan, sehingga dapat memperkuat persatuan, masyarakat dalam maupun luar Kampung Naga dapat bertemu dan bersilaturahmi tanpa ada perbedaan dengan adanya acara tersebut. Kayu dari pohon tersebut digunakan untuk kebutuhan membangun balai, seperti masjid dan lain-lain.
Ada rumah yang disebut “bumi ageung” yang sering di pakai saat acara adat, itupun hanya kuncen dan jajarannya yang boleh masuk ke rumah tersebut, rumah itu diangggap sebagai rumah keramat yang dibangun pertama kali di Kampung Naga.

B. Rumah Adat

Untuk rumah adat sendiri, memang dari awal rumah adat Kampung Naga sudah berbentuk panggung, akan tetapi sekarang sudah ada sedikit perubahan, seperti ada penambahan kaca dan kunci pintu. Sebelumnya, rumah adat hanya berbentuk panggung tanpa menggunakan kaca, untuk kunci awalnya hanya menggunakan kunci slot yang terbuat dari kayu. Untuk bentuk bangunan tetap sama berbentuk panggung. Untuk jumlah sekarang sudah ada 112 bangunan di Kampung Naga. Dahulu, hanya ada 100 kurang bangunan, bahkan tahun 1982 bangunan kurang dari 80, dan sekarang bangunan sudah tidak bisa di tambah lagi karena lahan sudah penuh. Di Kampung Naga tidak menggunakan listrik, bentuk rumah yang mudah terbakar menjadi alasan utama kampung naga ini tidak menggunakan listrik.

C. Aktivitas Masyarakat

Mata pencaharian masyarakat Kampung Naga ada Petani, setiap hari bekerja di sawah dan di kebun. Tetapi, hasil yang didapat dari bertani pun bukan dijual tetapi untuk di konsumsi.

D. Hutan Lindung dan Hutan Keramat

Kampung Naga Dikekelingi oleh hutan, akan tetapi ada hutan yang tidak boleh diganggu atau di masuki seenaknya yaitu hutan lindung dan hutan keramat.
Mengapa hutan lindung? Karena Masyarakat Kampung Naga hidup bersama alam, mereka melestarikan pepatah yang dikatakan oleh orang tua jaman dahulu bahwa, “Alam adalah rumah bagi pohon, pohon adalah sumber air, air adalah kebutuhan masyarakat dunia”. Meskipun Kampung Naga terletak di dekat sungai, Kampung Naga tidak pernah terkena banjir ataupun ketika sedang musim kemarau tidak pernah kekeringan.
Lalu, mengapa hutan keramat tidak boleh dimasuki? Karena masyarakat percaya di dalamnya terletak makam pendiri kampung naga. Sebenarnya boleh dimasuki dalam acara adat setahun sekali tetapi hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk, seperti kuncen, kepala dusun dan jajarannya.

E.  Alat Musik

Ada beberapa alat musik yang masih ada, seperti :
1. Terbang gemblung biasanya digunakan saat malam hari setelah Idul Fitri dan Idul Adha atau Maulid Nabi.
2. Terbang sejak bisa digunakan kapan saja. Terbang sejak ada beberapa jenis yaitu : turuktuk, gedemung, kemping ,inung , bajidor.
3. Angklung bareng, sama seperti angklung yang lain dimainkan secara bersama-sama tetapi tidak mengatur nada. (Fatin Karimatunnisa) 

Tinggalkan Balasan