Kolom

Kesetaraan Gender, Hal yang Masih Tabu di Masyarakat

Siddikah Tahirah

Beberapa orang, namun bisa dikatakan kebanyakan adalah para lelaki tak paham konteks, rajin bicara balas melawan kala perempuan ingin meminta bantuan.

Ada sebuah cerita, curhat seorang teman atas perilaku dan ucapan seorang teman lelakinya saat ia minta diantar pulang pacarnya setelah hari gelap di daerah Kabupaten Sukabumi yang masih tinggi intoleransinya.

Dia menganggap si perempuan baru saja menjilat ludahnya sendiri terkait perempuan mandiri yang ideal dengan nilai ‘kesetaraan gender’ yang belum habis dibahas bersama.

Alasannya, karena si perempuan adalah aktivis dan pernah berdebat dengannya terkait kesetaraan gender. Kesetaraan gender akhirnya dianggap tameng untuk dengan sengaja ataupun tidak membiarkan perempuan berjalan sendiri tanpa empati kemanusiaan yang seharusnya tak lagi harus jadi perdebatan dalam meja yang serius.

Kisah pendek tadi mendadak mengusikku sebagai kawannya. Aku mendadak geli, karena laki-laki yang meremehkan nilai kesetaraan gender itu mungkin belum selesai membahas makna mendalam dari ‘kesetaraan yang diperjuangkan’.

Kalau ada orang bertanya, kenapa dalam Islam perempuan harus menutup aurat, harus pergi dengan mahram atau anggota keluarganya yang lelaki, itu karena demikian cara Islam menjaga harkat dan martabat perempuan. Islam mengajarkan perempuan memiliki peran mulianya tersendiri dengan makna dan esensi nilai berharga yang tak bisa ditelan mentah-mentah dengan otak telanjang yang doyan meremehkan nilai kemanusiaan atas dasar kebodohan yang diamininya sendiri.

Bukan tidak mungkin perempuan menjadi pemimpin, bukan juga ketidakmungkinan bagi perempuan untuk ikut ambil bagian dalam sebuah peperangan, bukan juga hal mustahil jikalau perempuan menjadi penentu maju mundurnya kehidupan dunia ini.

Aku suka gerakan-gerakan perempuan yang tak biasa dan melawan arus di masanya. Aku sering mencermati alasan juga latar belakang kegilaan mereka. Tak jarang aku merasa terusik karena kisah menariknya yang tak biasa, ataupun karena perbedaan nilai yang mencolok di dimensi mereka saat itu.

Hari ini para manusia, terutama golongan lelaki pesimistis dan penganut patriarki fundamentalis, senang sekali mengolok perempuan yang asyik menyuarakan hak mereka dan kaumnya serta mereka yang rajin didzolimi manusia lain yang ngakunya manusia juga.

Mereka seperti dalam kisah pengantar tadi, menjadikan ujaran kesetaraan gender untuk berlepas diri dari nilai kemanusiaan yang digaungkan dalam berbagai teks keagamaan.

Mereka menganggap adanya pengakuan kesetaraan gender berarti membiarkan semua manusia berjalan sendiri-sendiri dengan masa bodohnya. Lantas, esensi kesetaraan gender itu apa?

Jika menilik sejarah, para penggiat kesetaraan gender menginginkan adanya kesamaan dalam hak, kesempatan, peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan tanpa pandang bulu. Konteks kesetaraan yang ingin didorong tentunya dikarenakan para lelaki masa tersebut lupa bahwa kemanusiaan adalah keniscayaan sebagai makhluk penghuni Bumi.

Mereka dengan pemikiran jahiliyah-nya berlaku seenak jidat dengan memperlakukan perempuan tanpa cinta-kasih yang menjadi Rahmat Tuhan untuk segenap makhluk-Nya. Perempuan ditindas, dilemahkan, ditelanjangi hingga bagai tak bernilai apapun di dunia ini.

Bagi mereka yang bernurani, ini jelas harus diakhiri, hingga muncul kesetaraan gender yang masih tetap saja jadi perdebatan seru sampai masa ini.

(Siddikah Tahirah, Aktivis Perempuan, Sukabumi) 

Tinggalkan Balasan