Damai Mengabarkan
Budaya

Mengenal Banyuwangi lewat Kesenian Batik

Motif batik gajah oling (istimewa)

Sunrise of Java atau bila diterjemahkan kurang lebih berarti Matahari terbit di Pulau Jawa yang mengacu kepada Banyuwangi karena di sinilah jika ingin menyaksikan sang fajar di Pulau Jawa.

Kabupaten Banyuwangi yang masuk ke dalam Provinsi Jawa Timur menyimpan keelokan dengan seni tradisi batik yang masih terus terawat dengan baik hingga zaman milenium kedua ini.

Penduduk asli Banyuwangi adalah Suku Osing atau Urang Using yang menempati areal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah yang mereka menolak disebut sebagai Jawa atau keturunan Bali lantaran mereka memiliki identitas budaya yang khas dan istimewa.

Dibandingkan dengan suku bangsa lainnya, orang Using mendiami daerah-daerah yang cenderung lebih subur sehingga punya kemewahan waktu untuk berkesenian sehingga mempunyai variasi produk budaya, termasuk batik.Contohnya bisa diambil bagaimana orang Using masih bisa bersantai memainkan angklung paglak di tengah sawah.Dengan sinkretisme budaya, orang Banyuwangi justru mampu bersiasat untuk mempertahankan tradisi.

Dalam tradisi masyarakat Using, motif kangkung setingkes yang merupakan ikon kerukunan dalam pernikahan Using tak lain merupakan bentuk lain dari batik buketan yang banyak kita temukan di Yogyakarta dan Solo.Di Jawa Tengah motif paras gempal bisa ditemukan juga.Di Banyuwangi sendiri terdapat lebih dari dua puluh motif batik yang disenangi dan motif Gajah Oling merupakan motif paling konvensional dan tidak bisa ditemukan di daerah lainnya.

Di Banyuwangi sendiri terdapat setidaknya tiga puluh lima usaha batik skala kecil dan menengah yang tersebar di delapan belas desa dari dua belas kecamatan.Jumlah usaha terbanyak ada di Kecamatan Cluring dan Kabat.

Sebagian besar merupakan usaha baru yang muncul seteleh UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization) menetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbenda pada 2 Oktober 2009 dan pemerintah lokal yang memberikan dukungan berupa pelatihan, peluang pameran dan konsultasi usaha UMKM.

Gajah oling sama sulur berbentuk huruf S terbalik ini sarat nilai-nilai sakral dan bisa dijumpai namanya tercantum di truk-truk di jalan raya.Terdapat beberapa versi tentang penamaan asal usul Gajah Oling salah satunya berasal dari nama sejenis belut dengan ukuran lebih besar ketimbang belut yang umum ditemukan dan disebut gajah oling.Hasman Singodimayan yang merupakan budayawan Banyuwangi menyebut oling sebagai kata lain kecil sedangkan gajah berasosiasi yang besar.Gajah oling perlambang satu kekuatan yang luar biasa,tapi dipandang kecil yang menyimpan kekuatan luar biasa.Simbol dari orang Banyuwangi yang melambangkan ketahanan mental. (Azhar)

Tinggalkan Balasan